Info Update

Kampanye di Kuburan

            Suatu hari saya melintas di pemakaman umum yang ada di kota Palembang. Tanpa sengaja saya tertarik dengan sebuah banner kecil yang menempel di pohon kamboja, saya sempat menghentikan kendaraan motor dan mengamati foto tersebut. Ternyata setelah saya mendekat banner kecil tersebut terpampang foto seorang kandidat calon kepala daerah, pohon tersebut persis di atas kuburan tua  dengan nisan dalam posisi yang hampir roboh. Saya sempat heran dan memikirkan sesuatu terhadap apa yang saya lihat.

            Saya tertawa sendiri ketika terpikir dan terbayang olehku kalau ada seorang kandidat dalam kampanye kemudian berpidato di komplek perkuburan tersebut. “Wahai bapak-bapak, ibu-ibu, sebentar lagi kita akan memilih pemimpin di wilayah kita, jangan salah pilih. Pilihlah saya!!, Jika saya terpilih jadi pemimpin kalian ... maka dihari pertama saya memimpin, maka saya akan menggali mempersiapkan lobang kubur saya sendiri. Jika saya memimpin wilayah ini tidak benar sesuai dengan harapan kalian, maka silahkan saya di kuburkan di lubang yang saya buat ini. Tanpa diduga mendengar pidato  itu, semua jazad di komplek perkuburan tersebut bangun dalam kondisinya masing-masing sesuai dengan amal yang mereka perbuat semasa hidupnya.

            Diantara ribuan jazad dalam komplek pemakaman tersebut, ada salah seorang yang masih berpakaian rapi, lengkap dengan sepatu, dasi dengan stelan baju safari. Sosok jazad itu walau kelihatan rapi namun di bajunya penuh dengan bercak darah, kondisi kepala plontos yang hampir remuk dan matanya yang hampir keluar. Ia berkata, ”Kamu sekarang memang belum merasakan, betapa hinanya aku ketika dalam kuburan ini. Aku menyesal kenapa aku mau menjadi pejabat, padahal aku bisa berbuat kebaikan lebih banyak lagi dibandingkan setelah aku menjadi pejabat, aku menyesal, karena setiap hari kepalaku dipukul sampai remuk, utuh kembali, lalu di pukul lagi. Begitulah seterusnya saya setiap hari. Saya berharap  batalkan saja niatmu, dan bertaubatlah sekarang. Berbuatlah baik sebanyak-banyak, jangan sekali-kali kamu menghianati rakyatmu”, kata jazad itu kepada calon pemimpin daerah ini. Serentak ribuan jazad tersebut menjadi riuh, mendukung ucapan jazad sang pejabat . “Supaya kamu tidak lupa dengan kami, sebaiknya setiap disaku celanamu, dimeja kerjamu, di kendaraan bahkan kemana saja kamu berada jangan lupa membawa sedikit tanah, nantinya setelah kamu terpilih wajibkan seluruh bawahanmu untuk menyimpan tanah di saku seragamnya”. Tegas  mantan pejabat yang telah wafat tersebut dengan suara terbata-bata. Serentak seluruh mayat diperkuburan tersebut tertawa terbahak-bahak, saya sendiri tidak tahu pasti apa maksud di balik mereka tertawa. Apakah mereka mengejek, meremehkan atau lainnya, yang pasti saya terkejut dari lamunanku.

            Didaerah lain munkin ada juga yang kampanye di atas kuburan, tapi inipun sebatas ikut membersihkan lahan kuburan dengan melibatkan berbagai pihak. Tetapi sepengetahuan saya belum ada calon pejabat kita khususnya di sumsel yang melakukan kampanye diatas kuburan. Sebab itu menurut saya kampanye di kuburan tidak mesti dilakukan di atas areal kuburan, tetapi esensi kampanye yang disampaikan oleh sang kandidat harus berani menyampaikan keinginan untuk memimpin wilayah ini dengan keyakinan bahwa kita semua akan mati dan akan mempertanggungjawabkannya di dunia maupun akhirat. Sebab itu dengan mengajak masyarakat luas untuk memakmurkan bumi ini akan dapat membawa kemuliaan seorang pemimpin dan rakyatnya di dunia maupun diakhirat.